Sebuah Kisah tentang Dia
"Dipaksa ikhlas akan hal-hal yang tak ingin di lepas"
Sesaat setelah dia menyadari bahwa esok ialah hari pengambilan rapor di sekolah dasarnya. Ayahnya harus bekerja ke luar kota. Lima bulan yang lalu, Ibunya kembali menemui Tuhannya. Lalu siapa yang akan menerima rapor akhir tahunnya?
Dia terlihat begitu cemburu.
Ketika esok hari satu persatu dari temannya berlari memeluk orang tua mereka yang baru sampai di gerbang sekolah untuk mengambil rapor. Ada salam, ada cium, ada panggilan lembut terucap dari bibir orang tua teman-temannya. Tapi tidak baginya. Dia hanya duduk melamun di teras kelas sambil mengharap akan sesuatu yg tidak mungkin; "Ibu akan datang, Ibu akan berjalan memasuki gerbang dan aku akan berlari menujunya". Tapi nihil. Semesta bermaksud menempanya menjadi gadis kecil yang kuat. Tapi usianya masih terlalu belia saat itu. Dengan baju pramuka tanpa hasduk yang dipakainya, dia berlari menuju kamar mandi. Menangis. Hancur. Cemburu melihat teman-temannya. Tak ada yang tau. Tapi Tuhan Maha Baik. Tuhan selalu baik pada dia ; memberinya air mata untuk membuatnya lega.
Dia terlihat begitu hancur.
Saat sang guru menyebut namanya sebagai juara kedua di kelasnya. Tidak, dia senang atas hasil yang ia terima sebagai buah belajar kerasnya selama enam bulan. Sebulan masih dengan Ibu, kelimanya tidak. Dan dia masih mendapat peringkat kedua. Pencapaian yang cukup baik bagi gadis ingusan yang manja, cengeng, bergantung pada Ibunya, namun seketika dipaksa ikhlas atas hal-hal yang tak ingin dilepas. Kalian tau? Setelah Ibu tiada, sesekali dia masih mengirim sms untuk Ibunya, berharap Ibu membalas dari surga. Hehe lucu ya.. Saat itu, ketiga juara kelas dipanggil untuk berbaris di depan, lalu gurunya telah menyiapkan tiga kotak hadiah terbalut kertas kado cantik untuk dia dan kedua temannya. Lalu, wali kelas mengajak orang tua dari ketiganya untuk bergabung ke depan, bersalaman dan berfoto. Seketika matanya berkaca kaca, tapi rasa gengsi seorang bocah SD kelas 3 terlalu besar untuk menangis di depan orang banyak. Nafasnya perlahan semakin cepat karena harus menahan tangis.
"Ibu, Ibu, ayo dong datang, Ibu jangan telat. Aku dapat juara dua lo Ibu..." jerit hati kecilnya berkali-kali.
Pada akhirnya, dunia memaksanya untuk menjadi kuat. Tidak ada tangis di depan orang banyak. Pulang ke rumah dengan riang, menelfon Ayah bahwa dia mendapat juara kedua di kelasnya. Waktu berlalu, dia belajar untuk mengerti bahwa Ibu tidak akan pernah kembali. Ibu adalah dia. Ibu adalah bagian dari dirinya. Ibu akan selalu ada. Dalam ingatannya, ingatan Ayah, ingatan kakak-kakaknya, dan di dalam doa-doa mereka.
-K-
Komentar
Posting Komentar